Rabu, 26 September 2012

contoh dan pengertian dari puisi angkatan 20 30 45 serta kontemporer :D



Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Puisi karya Muhammad yamin


\


INDONESIA TUMPAH DARAHKU
Bersatu kita teguh
Bercerai kita runtuh
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
Lihatlah kelapa melambai lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya. Tanah airku
Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air, malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang
Sejak malam diberi kelam
Sampai purnama terang-benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di alam nan lapang
Tumpah darah Nusa India
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai badan dan nyawa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air di Indonesia

Pujangga Baru

http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf11/skins/common/images/magnify-clip.png
Sutan Takdir Alisjahbana pelopor Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Contoh puisi angkatan 30 an
PERASAAN SENI
bagaikan banjir gulung – gemulung,
bagaikan topan seruh – menderu,
demikian rasa,datang semasa,
mengalir,
menimbun, mendesak, mengepung,
memenuhi sukma, menawan tubuh.
serasa manis sejuknya embun,
selagu merdu dersiknya angin,
demikian rasa,datang semasa,
membisik, mengajak, aku berpantun,
mendayung jiwa ke tempat di inginkan
jika kau datang sekuat raksasa,
atau kau menjelma
secantik juita,
kusedia hati,akan berbakti,
dalam tubuh kau berkuasa,
dalam dada kau bertahta!







Angkatan 1945

http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf11/skins/common/images/magnify-clip.png
Chairil Anwar pelopor Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani

Contoh puisi angkatan 45

Aku (Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga
kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari,Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi













http://bits.wikimedia.org/static-1.20wmf11/skins/common/images/magnify-clip.png
Taufik Ismail sastrawan Angkatan 1966
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Contoh puisi angkatan 66
Lingkungan Mati
Kau     sebut orang bicara tentang hijau daunan, rimbun  pepohonan, bermilyar kilometer kubik air yang memadat, mencair dan menguap, garis gunung danlembah yang serasi, komposisi zat asam yang rapidalam harmoni,Tapi     yang nampak oleh mataku orang-orang bertanam tebu seluas lapangan sepakbola di bibir mereka.Kau     bercerita orang bicara tentang serangga dan fisika tanah, unggas dan kimia udara, ikan dan habitat laut-an, manusia dan tetangganya, bumi dan klimatologi,Tapi    yang terdengar oleh telingaku adalah serangkai lagudimainkan lewat instrumen tua sudah, dan bertabur debu.Kau     tulis orang telah bicara mengenai rekayasa genetika padi dan sapi, penggergajian kayu dan pengedukanmineral bumi, penyuburan industri dan transportasi,distribusi laba dan budaya, pemerataan angka-angkadi atas bilangan jajaran kepala demi kepala,Tapi    yang terasa olehku adalah dusta yang bergincu lalejekan terus-terusan pada kemiskinan, perpacuandalam keserakahan, dengan paduan suara pengatas-namaan dengan penuh keteraturan.Kau     ingat-ingatkan aku tentang harmoni budaya antaratetumbuhan – hewan– angkasa – perairan – dan manu-sia, lalu kau beri aku 1000kauseritentangkemanusiaanyang adil dan beradab, serta 1000 petunjukmengenai sivilisasi yang lestari,Yang     kulihat di layar kaca adalah hewan diadu hewanuntuk mengeruk isi kantong wisatawan walau itujelas melanggar peraturan, manusia diadu manusiawalau itu menghina otak manusia dan menggilas akal waras, semua itu cuma karena kalap pada
sepotong nama dan serakah pada sejumlah rupiah,Kau    bercerita tentang orang yanb berkatabahwa sesudahhewan diadu hewan dan hewan diadu manusiabudaya jahiliah diresmikan sah, lalu manusiadiadumanusia bermula dengan pemujaan pada kepalandan luas-luas dipertontonkan, lalu naik satu tanggamanusia diadu manusia dengan senjata, naik tanggaberikutnya keroyokan atau pembantaian manusiapada rakyat sendiri atau bangsa lain, dengan bedilsundut bom napalm atau hulu nuklir, dengan cirikekerasan dan penindasan yang makin naik kelasdalam kebiadaban, maka paripurnalah perusakanpada kehidupan lingkungan.Kau     berkataorang masih juga bicara tentang lingkunganhidup,Aneh    ingatanku malah terpakukinipadalingkunganmati.1990

Puisi masa konemporer (masa sekarang)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar